Pencitraan "Nabi" Jokowi Dinilai Blunder !

By : www.infosatu.com | Senin | 16 Desember 2013 | 10:37:12 | dibaca :5707

ASATUNEWS - Begitu gencarnya pencitraan terhadap diri Joko Widodo atau akrab dipanggil Jokowi membuat masyarkat luas mengerti bahwa citra diri Jokowi itu adalah hasil rekayasa, artifisial atau semata - mata hanya buatan tim sukses atau konsultan pencitraannya. 

Terhitung sejak Jokowi mulai diorbitkan sebagai calon gubernur (cagub) Jawa Tengah sekitar  dua tahun lalu, berbagai berita positif tentang diri Jokowi memenuhi media - media yang menjadi 'rekanan' tim sukses Jokowi. Sebaliknya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo saat itu selalu menjadi bulan - bulanan media. 

Rekayasa pencitraan Jokowi melalui media massa dan media sosial semakin gencar ketika Jokowi dipastikan menjadi cagub pada pilkada Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 lalu. Tidak hanya media massa arus utama (mainstream) yang dilibatkan sebagai 'rekanan' timses Jokowi, semua jenis media sosial seperti fesbuk, twitter, kaskus juga menjadi andalan Jokowi untuk menempatkan dirinya sebagai cagub terpopuler.

Salah satu tim khusus yang dibuat untuk mendukung pencitraan Jokowi dan menyerang setiap kritik terhadap Jokowi adalah 'Jasmev' di bawah komanda Kartika Djoemadi, seorang praktisi 'spin doctor'.  "Jasmev akan membuat 10.000 akun twitter dan ribuan akun socmed lain. Khusus untuk akun pencitraan Jokowi di twitter, Jamev menargetkan satu juta twit (kicauan) selama putaran kedua pilkada DKI Jakarta"' ujar Kartika Djoemadi sekitar Juli 2012 lalu. 


Pencitraan berlebihan yang dibuat mengenai sosok Joko Widodo telah membuatnya sebagai sosok yang disebut di berbagai media sosial sebagai 'nabi'. Mulai dari akun twitter yang mempunyai follower yang cukup banyak sampai media online.

Pencarian google.com, pada Senin (18/12) mengenai kata - kata  'nabi jokowi' menghasilkan hampir dua juta hasil pencarian. Temuan ini mengindikasikan semakin  blundernya pencitraan Jokowi di media - media massa dan sosial media. 

Sebutan  'Jokowi Nabi' atau Nabi Jokowi pertama sekali muncul di sosial media sebagai bentuk sindiran terhadap Jokowi dan pendukungnya yang sangat berlebihan dalam mendukung Jokowi dalam rangka pencitraan dan melindunginya dari setiap kritik atau kecaman. Disamping sebutan 'Nabi Jokowi' atau 'Jokowi Nabi', akun - akun sosial media menyebut istilah 'Umat Jokowiyah' bagi para pendukung Jokowi. 

Susah untuk menilai 'kenabian' yang dimaksud dari sosok Joko Widodo yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Jakarta itu. Selain itu, Antara (15/12) melaporkan masyarakat Indonesia juga dinilai mulai tidak rasional terhadap sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi itu.

Ketidakrasionalan itu terlihat dari elektabilitas tertinggi dalam survei nasional Cyrus Network dengan 28,2 persen dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.

"Masyarakat terperangkap di antara realitas dan mitos tentang seorang pemimpin seperti Jokowi," kata Direktur Riset Cyrus Network, Eko David Dafianto, saat memaparkan hasil surveinya di Jakarta, Minggu (17/12).

Lebih lanjut Eko mengatakan pemimpin yang baik dan berprestasi termasuk mantan Walikota Solo itu tetap membutuhkan kritik. Bahkan, kata dia, Jokowi juga harus membuka ruang untuk kritik secara luas.

"Publik harus disadarkan bahwa Jokowi itu tetap manusia biasa, bukan ratu adil atau tokoh serba bisa yang akan menyelesaikan seluruh persoalan melalui tangannya," ujarnya.

Eko menjelaskan dari survei yang dilakukannya sebanyak empat kali, sebanyak 66,9 persen responden membicarakan Jokowi. Kemudian, yang membicarakan Jokowi bernada positif sebesar 62,7 persen.

"Sembilan dari 10 orang yang mengenal Jokowi, membicarakannya dengan nada positif. Apapun yang dilekatkan pada Jokowi, akan jadi baik dan bagus. Jokowi sudah jadi mitos, publik tidak rasional lagi dan kehilangan objektivitas dalam memberikan penilaian. Apapun yang menjadi pendapat Jokowi menjadi benar. Siapapun yang mengkritik Jokowi, akan menjadi musuh bersama (public enemy)," tambahnya.

Di tempat yang sama, Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk mengkhawatirkan nama Gubernur DKI Joko Widodo yang merajai hasil survei karena tidak ada pesaing yang dapat menandingi mantan wali Kota Solo itu.

"Saya khawatir dengan fenomena ratu adil. Sepertinya Jokowi jadi manusia setengah dewa. Ini capres setengah dewa tidak sehat jangan terjebak dengan mitos ratu adil," katanya.

Hamdi menuturkan Indonesia memiliki sejarah pemimpin yang dianggap ratu adil seperti Soekarno dan Soeharto. "Itu tidak sehat," kata Hamdi.

Rekayasa pencitraan yang semu terhadap Jokowi ini merupakan hasil  kerja tim sukses atau tim konsultan media para konglomerat yang mendukung Jokowi menjadi calon presiden pada pemilihan presiden tahun depan, meski secara riel Jokowi belum menunjukan kinerja yang memadai sebagai gubernur DKI Jakarta. Warga Jakarta masih menunggu  Jokowi kinerjanya dan realisasi dari janji - janji Jokowi yang belum terwujud. 

Rendahnya serapah APBD DKI Jakarta tahun anggaran 2013 dan banyaknya program - program pemda DKI Jakarta yang tidak berjalan, semakin membuktikan ketidakmampuan Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta. Di kehidupan nyata Jokowi semakin jauh dari persepsi publik yang digambarkan melalui media massa dan sosial media. Rekayasa pencitraan berlebihan terhadap diri Jokowi menjadi telah bumerang bagi dirinya sendiri.